MEMENTO AMORIS. Ya, salah satu waralaba horror zombie paling legendaris kembali menyapa penontonnya setelah 18 tahun—sejak 28 Weeks Later (2007) rilis. 28 Years Later (2025) hadir menjawab rasa kangen dari kita semua dan menurut saya ini menjadi film paling indah dari keseluruhan waralaba, bahkan mungkin salah satu yang terindah dibanding film-film dengan tema serupa.
Horror? Zombie? Indah? Mungkin memang terlihat aneh menggabungkan 3 hal yang sangat kontradiktif secara makna. Tapi, memang itu yang saya tangkap. Film ini mencoba menggambarkan fenomena kematian bukan sebagai sesuatu yang mengerikan, melainkan sesuatu yang memang harus disikapi dengan penuh ikhlas dan kerelaan, bahkan mungkin perlu dirayakan. Kematian juga bukan awal dari kehancuran—seperti pesan yang coba mereka sampaikan di 28 Days Later (2002)—tetapi justru kehidupan yang penuh dengan kebencian dan emosi negatif yang mengawali kehancuran-kehancuran itu.
Film ini tak ragu memutarbalikkan perspektif yang banyak diyakini banyak orang. Bagaimana jika 'Zombie'—sebagaimana manusia menyematkan istilah itu pada mereka 'yang terinfeksi'—telah mengalami pergeseran makna? Bagaimana jika insting manusia untuk survive berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan, yaitu berburu? Bagaimana jika manusia lah yang berinisiatif memulai perang dengan memburu, membunuh, serta menghancurkan tempat para 'mayat hidup' tersebut? Bagaimana jika kehadiran zombie ini kembali mengeluarkan sisi liar manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang menjadi pondasi utama bagaimana cerita di film ini bergerak.
Pondasi kuat tersebut juga ditunjukkan melalui dinamika karakter Spike (Alfie Williams), bocah 12 tahun dengan ayahnya, Jamie (Aaron Taylor-Johnson), ketika Spike memulai ritual pendewasaannya, yakni berburu 'mayat hidup'. Ya, film ini punya elemen coming-of-age meski bukan sebagai topik utama. Pendewasaan Spike mungkin jadi hal yang paling menarik untuk saya dalami. Seperti yang kita tahu, ia lahir di dunia yang sudah 'kiamat' dan tak mengenal dunia luar selama tumbuh kembangnya. Ia juga dipaksa berburu zombie di usia 12 tahun oleh ayahnya ketika ibunya, Isla (Jodie Comer), juga sedang sakit. Keadaan yang super tidak ideal serta dilema nurani, kesiapan batin, serta pembuktian diri menjadi bekal utama karakter Spike didewasakan. Dan ketika ia mengetahui ayahnya selingkuh, ia terpaksa bertindak menantang kedewasaannya. Ia berusaha membawa ibunya bertemu dengan satu-satunya dokter yang masih hidup, dr. Kelson (Ralph Fiennes), untuk disembuhkan. Namun, masalahnya, dr. Kelson hidup di tengah-tengah para zombie.
Secara tersirat, pesan yang coba ditampilkan film ini memang indah, tapi keindahan itu tak benar-benar murni kita lihat. Secara sinematografi dan pemilihan setting, harus diakui alam Britannia selalu bisa menawarkan keindahannya sendiri. Bukit, pantai, laut, hutan, langit malam, dan kota kecil khas Britannia jadi daya tarik tersendiri dari segi visual. Akan tetapi, justru di keindahan-keindahan itulah para 'zombie' ini bersemayam.
Perlu kita ingat bahwa 'zombie' di franchise ini adalah salah satu desain zombie paling mengerikan dan ciri khas itu tetap dipertahankan dengan baik oleh Danny Boyle. Melalui eksekusi teknis yang jempolan, adegan dikejar 'zombie' masih efektif memberikan ketegangan. Scoring yang cukup disturbing dan sound design penuh teriakan serta langkah kaki zombie masih jadi amunisi yang cukup berdampak pada rasa takut dan tegang di benak penonton. Lucunya, tak jarang Danny Boyle memasukkan musik-musik yang bikin kita berpikir, "ini kayaknya bukan musik untuk film kek gini, deh. Tapi, kok masuk-masuk aja ya?". Selain itu, pergerakan kamera yang dinamis, penggunaan efek blur di beberapa shot, serta penggunaan kamera iPhone 15 Pro Max sanggup memberikan variasi yang bisa memberikan kesegaran.
Secara keseluruhan, 28 Years Later (2025) berhasil membayar kerinduan penonton terhadap franchise ini. Bahkan, tak hanya itu, pembaruan-pembaruan yang ditampilkan juga berhasil meyakinkan penonton bahwa film ini naik secara kualitas. Desain produksi yang niat, penulisan karakter yang mantap, aspek teknis yang memukau, serta acting pemain yang standout—terutama Alfie Williams dan Jodie Comer—film ini luar biasa. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika di babak klimaks menuju ending, yakni ketika Spike mengikhlaskan seseorang yang menjadi satu-satunya harapan dalam hidupnya. Bersama Ralph Fiennes, adegan ini akan saya ingat selamanya.
Saya tak ragu untuk menyebut ini sebagai film terbaik di franchise 28 .... Later. Danny Boyle seperti enggan bermain aman, ia benar-benar niat menghidupkan kembali franchise ini setelah hampir 2 dekade tertidur. Sekali lagi, 28 Years Later (2025) tampil gagah di jajaran horror terbaik tahun ini. Keindahannya, kesediaannya untuk berinovasi, serta kemampuannya di aspek teknis perlu diacungi jempol. 2025 tahun yang berkesan bagi genre horror, saya berharap 2025 juga menjadi tahun yang cerah bagi keberlangsungan waralaba ini.





