PUAS & TUNTAS. Dua kata yang rasanya paling tepat untuk menggambarkan pengalaman menonton karya terbaru Paul Thomas Anderson. Pujian deras memang sudah lebih dulu mengitari film ini, dan setelah menyaksikannya sendiri, kepercayaan yang selama ini terbangun lewat deretan karyanya benar-benar terasa tuntas. One Battle After Another (2025) menegaskan sekali lagi: Paul Thomas Anderson adalah nama yang tak bisa dilepaskan dari lanskap sinema abad ini. Ia kembali mengukuhkan reputasinya sebagai sutradara yang bukan saja konsisten secara artistik, tetapi juga berani mengangkat keresahan sosial politik dalam bungkus yang megah sekaligus menghibur.
Film ini langsung menghentak sejak pembuka. Adegan “revolusi” yang menyingkap masa lalu Bob Ferguson (Leonardo DiCaprio) membangunkan antusiasme dengan cepat. Ada getaran khas: terkejut, terpukau, lalu terlena. Intensitas klasik Hollywood berpadu dengan eksekusi kreatif yang penuh kejutan, sementara humor nakal ala PTA menempel di sela-selanya. Inilah kombinasi yang membuat film terasa hidup sejak menit pertama. Meski struktur dan skalanya lebih “Hollywood” dibanding karya-karya PTA sebelumnya, karakteristik khasnya tetap menempel kuat: permainan tempo, ironi, dan absurditas yang terasa dekat sekaligus ganjil.
Salah satu lapisan terkuat dalam film ini adalah keberaniannya bicara gamblang tentang isu sosial politik. White supremacy, fasisme, dan penyalahgunaan kuasa ditampilkan tanpa selubung simbolik atau alegori rumit. PTA memilih untuk frontal: lewat dialog yang menusuk, gestur yang kadang terasa menggelikan, dan perilaku karakter yang menyingkap kebencian sistemik. Adegan polisi yang bersorak dan berswafoto ramai-ramai setelah menangkap salah satu tokoh revolusi, atau sekelompok kulit putih yang menolak berhubungan intim dengan orang non-kulit putih, menjadi ilustrasi bagaimana kebencian bisa tampil sepele sekaligus memuakkan. Nada kritisnya lantang, bahkan kasar, tapi justru itulah yang membuat film ini terasa relevan.
Kekuatan naskahnya juga patut dipuji. Tak seperti PTA yang kerap menjahit alur yang terasa acak, kali ini jalan cerita jauh lebih linier dan accessible. Namun bukan berarti kehilangan ciri khas. Dialog-dialog penuh humor masih hadir, muncul di titik tak terduga, terkadang hanya berupa gestur atau ekspresi kecil yang berhasil mengundang tawa. Penonton dibuat sadar bahwa humor, tragedi, dan absurditas bisa hidup berdampingan dalam satu frame. Ini adalah kecakapan PTA yang sulit ditiru: menjahit percakapan sehari-hari yang remeh-temeh menjadi sesuatu yang bermakna.
Karakter-karakternya terbangun dengan detail. Bob Ferguson digambarkan sebagai aktivis yang sudah lama meninggalkan pertempuran, dipaksa kembali demi menyelamatkan anaknya, Willa Ferguson (Chase Infiniti). Ia rapuh, konyol, emosional—sering kali tak tahu apa yang harus dilakukan. Ada sisi manusiawi yang begitu kental, membuatnya terasa lebih dari sekadar figur heroik. Di sisi lain, Kolonel Steven J. Lockjaw (Sean Penn) tampil sebagai antitesis: ekstrem, nyentrik, penuh obsesi. Pengenalannya pun unik—alih-alih langsung mengintimidasi, ia pertama kali ditampilkan dalam keadaan “tergoda” oleh pancingan sensual Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor). Adegan ini justru terasa komedik, nyentrik, sekaligus ikonik. Bukan sekadar gimmick, tapi pengantar yang efektif untuk memperlihatkan eksentrisitas Lockjaw sejak awal, sebelum lapisan obsesinya perlahan ditelanjangi. Penampilan mereka diperkuat ansambel lain: Deandra (Regina Hall), Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor), Sensei Sergio (Benicio del Toro), hingga Mae West (Alana Haim). Masing-masing diberi ruang untuk bersinar, tidak ada yang terasa sekadar tempelan.
Aspek teknisnya pun luar biasa. Sinematografi, visual, dan desain suara berpadu harmonis. Variasi angle dan ritme editing menjaga fokus penonton sejak awal hingga akhir. Babak kedua dan ketiga menghadirkan kepuasan penuh; bahkan kekacauan di adegan pembuka terasa menjadi fondasi yang memperkuat ketegangan berikutnya. Desain suara dimanfaatkan dengan sangat sadar—bukan hanya mengiringi, tapi menambah kedalaman atmosfer. Setiap dentuman, setiap kepingan sunyi, terasa seperti bagian dari narasi itu sendiri.
Salah satu sekuens terbaik datang ketika Bob Ferguson tiba di toko milik Sensei Sergio. Sekuens panjang ini dipenuhi kekacauan komedik yang ditulis dan diarahkan dengan presisi. Saat Sergio sibuk mengurus keluarga dan murid-muridnya yang harus bersiap kabur dari potensi kejaran polisi, Bob justru sibuk mencari stopkontak dari satu colokan ke colokan lain. Humor PTA mencapai puncaknya ketika Bob frustrasi hanya karena pertanyaan sederhana: “What time is it?” Kekacauan absurd yang berlangsung lama, tetapi justru itulah daya tariknya. Serius sekaligus jenaka, chaos namun tetap terkontrol. Adegan ini seakan mengingatkan bahwa PTA masih menyimpan energi komedi yang pernah membuat karya-karyanya begitu dicintai.
PTA juga masih setia pada ritual “pengejaran” yang kerap muncul di karya-karyanya, seperti Punch-Drunk Love (2002) atau Licorice Pizza (2021). Kali ini, pola itu dimajukan lebih jauh: lebih panjang, lebih grande, lebih menegangkan. Kontur jalan dan dataran Southwest Amerika Serikat dimanfaatkan sebagai penggerak suspense, menghasilkan salah satu sekuens klimaks terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Intensitas visual, tata suara, dan koreografi adegan bersatu menciptakan ketegangan yang tak memberi ruang bagi mata untuk berpaling. Pengejaran ini bukan hanya soal aksi, melainkan juga ujian bagi karakter-karakter utama, mendorong mereka ke titik balik yang menentukan.
Keseluruhan film ini bekerja di hampir semua lini. Naskahnya rapi, karakterisasinya kuat, sinematografinya memukau, dan performa para aktornya mengesankan. One Battle After Another (2025) berhasil menyatukan drama keluarga, komedi, aksi, dan thriller dalam satu wadah, sekaligus menyodorkan kritik tajam terhadap politik far-right yang tengah menguat di Amerika Serikat. Semua elemen itu dibungkus dalam energi yang tidak pernah kendor sepanjang durasi.
Karya seni selalu politis, dan PTA mengingatkan hal itu dengan cara yang tak bisa diabaikan. Dengan One Battle After Another (2025), ia sekali lagi membuktikan dirinya bukan sekadar salah satu sutradara terbaik abad ke-21, melainkan nama yang akan terus menggema dalam sejarah sinema. Sebuah film yang tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga pengalaman yang menghadirkan rasa tuntas di kepala dan puas di hati.






