FILM TERPENTING TAHUN INI. Eva Victor hadir memberikan sesuatu yang benar-benar berharga bagi kita semua sebagai manusia melalui Sorry, Baby (2025), karya debutnya sebagai penulis dan sutradara. Sorry, Baby (2025) datang membawa sesuatu yang sangat berdampak dan sangat penting, terutama bagi penyintas, korban, dan pegiat kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Sensitivitas tinggi yang dibalut dengan kejujuran dan keterbukaan hati yang luas memberikan petunjuk yang baik untuk pembentukan rasa empati terhadap korban dan penyintas. Sebuah pendekatan humanis yang sering dilupakan—baik sengaja maupun tidak—oleh banyak seniman ketika hendak memotret realitas kasus super keji ini.


Film ini sendiri menceritakan seorang perempuan bernama Agnes (diperankan oleh Eva Victor sendiri) yang tinggal di wilayah countryside di salah satu wilayah di Amerika Serikat. Suatu hari, sahabatnya, Lydie (Naomi Ackie) berkunjung ke rumahnya, sekadar untuk menjalani akhir pekan bersama-sama. Tak terjadi apa-apa di sequence pembuka ini, kecuali gestur dan perilaku Agnes yang sedikit terlihat aneh, sampai akhirnya linimasa bergerak mundur ke masa mereka menjalani kehidupan kuliah pascasarjana. Di sinilah, Agnes mengalami pelecehan seksual oleh dosen pembimbing tesisnya. Tak ada saksi. Tak ada bukti yang cukup kuat, bahkan pelaku langsung kabur ke New York City setelah melakukan hal keji tersebut. Ketiga alasan konyol itu membuat kasus ini mengendap seiring berjalannya waktu. Cerita film pun berjalan maju. Melalui chapter film yang dipecah berdasarkan tahun pertama, tahun kedua, hingga tahun ketiga pasca kejadian, Eva Victor mengajak penonton untuk menemani proses Agnes menjalani kehidupannya.

Saya bisa dengan mudah bersaksi bahwa naskah Sorry, Baby (2025) merupakan salah satu naskah paling humanis yang pernah dibuat dalam sebuah karya seni film. Rasanya, semua adegan, semua potongan-potongan kain yang ada di film ini dijahit dengan sepenuh hati. Kepekaan itu sangat terasa dari cara Eva Victor mendesain adegan-adegannya, alur ceritanya, hingga diwujudkan dalam bentuk dialog. Penulisan karakter, dialog antar karakter, hubungan antara karakter dengan benda-benda di sekitarnya, hubungan antara karakter dengan sesuatu yang ia sukai, dan lain-lainnya terasa sangat menyentuh tanpa perlu adegan yang megah atau grande. Eva Victor punya kekuatan senjata yang sulit disamai oleh orang lain, yakni sensitivitas tinggi dan kemauan yang besar untuk peka, mengerti, dan memahami.


Dalam perjalanan sejarah karya seni yang memotret kasus kekerasan seksual, yang mana membutuhkan sensitivitas dan kepekaan yang sangat tinggi, tak jarang ditemukan karya-karya seni yang tidak cukup baik dalam membentuk empati serta memahami realita yang sebenarnya. Di sebagian karya seni tertentu, kesempatan kita untuk mengenal penyintas itu seringkali terasa lebih kecil karena fokus pada perasaan-perasaan trauma atau dampak psikis yang dihasilkan saja. Pendekatan itu beberapa kali efektif menghasilkan empati dan validasi atas penderitaan dan rasa trauma korban juga dibutuhkan, tapi tak jarang pendekatan tersebut justru memicu trauma yang sama di benak penonton karena eksekusinya seringkali berlebihan dan cenderung eksploitatif. Hal-hal semacam itu sama sekali tak terjadi di film ini. 

Saya sangat kagum dengan sensitivitas Eva Victor mengolah pendekatan terhadap perasaan trauma Agnes serta perhatian yang diberikan terhadapnya. Dalam beberapa kesempatan, rasa trauma yang dialami Agnes memang cukup diperlihatkan, seperti misalnya adegan Agnes mengalami panic attack saat berkendara, atau kecenderungan Agnes menutup diri dengan menutup seluruh jendela rumahnya dengan kertas-kertas tesisnya, atau kepanikan yang timbul ketika seseorang mengetuk pintu rumahnya. Tapi, semua itu tidak ditujukan untuk mengasihani Agnes secara berlebihan, sebaliknya hanya bertujuan untuk mengaktifkan empati penonton terhadap Agnes. Di sini, acting seorang Eva Victor berperan besar terhadap penyampaian semua perasaan kompleks ini dan harus diakui, performa Eva Victor merupakan salah satu penampilan terbaik sepanjang tahun ini, sejauh ini. Ada detail ekspresi wajah yang hanya bisa dihasilkan dari kepekaan yang tinggi terhadap kekerasan seksual, seperti misalnya ketika Lydie memberitahu berita kehamilannya ke Agnes. Detail ekspresi kecil di adegan itu sudah cukup baik menyampaikan kejutan batin yang sedang dialami Agnes.


Keinginan besar Eva Victor untuk memahami korban itu sesuatu yang mahal, yang akan sulit ditemui di film-film lain. Di film ini, semua pendekatan yang dilakukan Eva Victor itu terasa benar, tidak ada satu pun adegan yang menimbulkan tanda tanya curiga atau menciptakan missed di beberapa titik. Eva Victor tak segan untuk menunjukkan kehidupan sehari-hari Agnes sebagai amunisi bagi penonton untuk mengenal dan memahami sosok penyintas. Agnes bukan karakter yang hanya punya satu spektrum, yang dalam hal ini merupakan korban pelecehan seksual. Ia juga manusia. Ia berhak hidup dari hal-hal di sekitarnya, hidup dengan tetangganya, dan tentu, sahabatnya. Di beberapa kesempatan, ia juga membutuhkan interaksi dengan lingkungannya. Eva Victor memberikan ruang yang besar kepada penonton untuk menjadi teman, menjadi saksi bisu atas perjuangan Agnes, tanpa harus melewati atau melanggar batasan.

Film ini tak hanya menempatkan Agnes sebagai pusat gravitasi cerita, tapi juga memberi ruang bagi Lydie untuk menjadi gema kemarahan yang banyak orang simpan dalam diam. Ia mewakili rasa muak terhadap lemahnya keberpihakan masyarakat dan sistem hukum pada penyintas kekerasan seksual—perasaan yang hadir tanpa perlu dentuman, justru merembes lewat sindiran-sindiran halus yang menyalakan panas di dada. Di satu titik, dialog Agnes menjadi semacam poros emosional film: ia berkata penjara dan hukuman tak akan mengubah pelaku, ia tetap pelaku pelecehan seksual; yang ia inginkan hanyalah pelaku berhenti melakukannya. Sebuah pernyataan yang terdengar sederhana, tapi menyimpan ketegangan moral yang besar. Sebuah pernyataan yang lahir dari keberanian untuk melihat dunia dari mata seorang penyintas, dan dari kemauan Eva Victor untuk memahami, bukan sekadar menggambarkan.


Kesimpulannya, Sorry, Baby (2025) sanggup membawakan topik berat seperti pelecehan seksual dengan cara yang sangat humanis, jauh dari pendekatan eksploitatif, dan tetap bersedia menyelipkan humor dengan subtil dan tajam. Kombinasi dari tiga hal ini tidak mungkin terjadi tanpa sensitivitas dan kepekaan yang sangat tinggi. Eva Victor berdiri tegak menyampaikan keresahannya dengan hati yang penuh, sehingga berhasil membuat Sorry, Baby (2025) terasa seperti panduan yang humanis untuk memahami perasaan penyintas dan korban kekerasan seksual. Di tengah masyarakat yang masih kerap menyalahkan korban, mengabaikan cerita mereka, atau cenderung lebih suka menempatkan energi kemarahan atau kekecewaan pada pelaku sebagai fokus utama—film ini mengingatkan bahwa perhatian terbesar seharusnya kita berikan kepada korban. Sorry, Baby (2025) mengajak kita untuk mendampingi mereka, menjadi teman yang hadir tanpa syarat, menjadi pendengar yang sabar, menjadi penopang yang tidak menghakimi. Sebuah ajakan yang layak dijawab oleh siapa pun, sebab memahami korban adalah langkah pertama untuk memutus rantai kekerasan seksual.