GELORA DARAH MUDA. Itulah pondasi dasar dari Happyend (2024), karya terbaru Neo Sora yang menjelma bukan sebagai alarm keras atau poster agitasi, melainkan sebagai api kecil yang membakar lambat—di dada, di kepala, di ruang-ruang sejarah yang selama ini dikubur dalam diam. Film ini menarik kembali tragedi besar yang terlupakan—gempa Kanto 1923 dan kekerasan ras yang menyertainya—ke hari ini. Tapi, Neo Sora menolak meratapi. Sebaliknya, ia bertanya: Bagaimana jika sejarah itu, dengan segala kekejamannya, hadir lagi di hari ini? Apakah kita akan bertindak, atau tetap membisu?

Pertanyaan itu dijawab dengan satu hal: persahabatan, bukan slogan manis atau poster solidaritas, tapi relasi yang retak, penuh luka, yang berusaha untuk terus dipertahankan. Di tengah semua itu, berdirilah Kou (Yukito Hidaka) dan Yuta (Hayato Kurihara)—dua kutub yang disatukan lewat musik. Di antara mereka ada kemarahan, tapi juga kasih. Ada perbedaan ideologi, tapi juga irama yang sama. Musik, bagi mereka, bukan hiasan. Ia adalah bahasa. Ia adalah cara untuk tetap waras. Ia adalah alat tempur meraih kebebasan.

Tempat mereka berpijak bukan tanah yang netral. Mereka sekolah di sebuah institusi khusus untuk anak-anak imigran—ruang yang dibentuk sistem bukan untuk merangkul, tapi untuk mengisolasi dengan halus. Di sana, identitas bukan sesuatu yang dirayakan, tapi sesuatu yang diamati, dicatat, dicurigai. Anak-anak seperti mereka—yang mulai berpikir, mulai bertanya, mulai tak patuh—secara otomatis dicap lewat teknologi identifikasi. Wajah-wajah mereka diarsipkan. Gerak mereka dimonitor. Mesin mencium “potensi pembangkangan” seperti anjing pelacak, lalu memisahkan mereka dari norma.

Pembungkaman itu tak selalu kasar. Kadang ia datang sebagai narasi tentang keamanan, tentang kestabilan, bahkan menjelma narasi masa depan yang “lebih baik" dan anak-anak itu diminta memilih: patuh dan hidup tenang, atau melawan dan disingkirkan pelan-pelan. Mereka tidak hanya dibungkam lewat sensor, tapi lewat pembiasaan, lewat pengulangan wacana dan juga lewat pragmatisme yang dipoles rapi agar tampak masuk akal. 

Di tengah semua itu, mereka tetap mencari ruang untuk bernapas. Bukan ruang ideal, tapi ruang yang bisa mereka curi, seperti ruang musik sekolah yang mereka bobol diam-diam setiap malam atau rumah Yuta yang luas dan sepi, yang jauh dari pengawasan orang tuanya. Mereka bergerak di bawah lampu yang berkedip dan irama EDM yang mulai diputar. Musik elektronik bukan pelarian, tapi peredam kemarahan yang belum bisa diluapkan. Mereka berdansa di antara keraguan, larut dalam musik ritmis yang mengubah luka menjadi gerakan. Kadang mereka tak bicara sama sekali—cukup musik yang mengisi celah.

Yuta bukan pemberontak yang keras kepala. Ia bukan seperti Kou atau Fumi (Kilala Imori) yang langsung bereaksi ketika melihat penindasan. Yuta butuh waktu. Sebab dalam hidupnya yang sempit, ada dua hal yang ia tak bisa lepaskan: musik dan pertemanan. Dua hal yang menjadi jangkar. Ketika salah satunya goyah, ia pun oleng. Kou sering melihatnya sebagai orang yang “tidak peduli,” tapi sebenarnya Yuta justru peduli terlalu dalam, terlalu takut kehilangan apa yang ia punya. Ia tidak siap hidup tanpa musik, dan ia tak ingin pertemanannya dengan Kou hancur oleh api yang belum ia pahami.

Sementara Kou, lahir dari latar yang lebih kompleks, menolak diam. Ia bukan keturunan asli Jepang—dan kesadaran itu tumbuh menjadi bara yang tak bisa terus diredam. Kemarahannya cepat menyala. Sayangnya, api itu kadang membakar terlalu luas—hingga membakar orang terdekat. Yuta termasuk yang terbakar. Luka itu membentuk pertumbuhan karakter yang drastis. Semua itu terjadi karena film ini tak pernah menyederhanakan siapa “yang benar.” Ia memberi ruang untuk kebingungan, ketidaksiapan, dan ketakutan. Dari sanalah, perlawanan yang lebih jujur bisa lahir.

Diskriminasi yang mereka hadapi tidak hanya datang dari aparat atau teknologi. Ia datang dari lingkungan sekitar—dari guru yang pura-pura tak tahu, dari teman yang mulai menjauh, dari keluarga yang takut kehilangan pekerjaan. Dunia Happyend adalah dunia yang nyaris kehilangan keberanian untuk bermimpi. Dan karena itulah, mimpi kecil mereka untuk tetap berdansa—di kamar, di atap gedung, di ruang musik sekolah yang mereka duduki—terasa seperti revolusi.

Karakter lain seperti Ming (Shina Peng), Fumi, Ataro/Ata-chan (Yuta Hayashi), dan Tomu (ARAZI) hadir sebagai lapisan-lapisan lanjutan dari jaringan solidaritas ini. Akan tetapi, film ini tahu, inti emosionalnya ada di Kou, Yuta, dan musik yang menyatukan mereka. Musik bukan hanya simbol penyatuan, tapi juga batas. Batas antara bertahan dan menyerah. Antara kompromi dan pembebasan.

Sinematografinya tenang namun tetap mampu memotret dunia distopia yang sedang dijalani. Kamera sering diam sejenak, membiarkan karakter menghela napas, menatap kosong, atau berbincang pelan. Editing-nya tidak buru-buru. Musik datang bukan sebagai ilustrasi, tapi sebagai alur emosional. Dalam banyak adegan, musik menjadi percakapan. Saat kata-kata gagal menjelaskan, mereka berdansa. Dan dari sanalah solidaritas bertumbuh—bukan dari ceramah, tapi dari irama.

Neo Sora tidak tertarik membuat film yang sempurna secara struktur. Ia ingin membuat film yang terasa dan Happyend (2024) berhasil. Ia menyelinap diam-diam dan tinggal di dalam tubuh. Rasanya seperti lagu demo: belum dipoles, tapi jujur. Dan justru karena itulah ia sulit dilupakan. Mungkin akan ada yang bilang film ini terlalu politis, terlalu lambat, atau terlalu simbolik. Namun, bukankah dunia ini sudah terlalu sunyi dari simbol-simbol perlawanan yang tulus? Happyend (2024) tidak berusaha menyenangkan semua orang. Ia menantang, bahkan kadang mengganggu. Tapi, bagi yang bersedia bertahan, ia akan menemukan kehangatan yang jarang ditemui di film bertema keras semacam ini.

Dan ya, meskipun judulnya Happyend (2024), ini bukan kisah akhir yang bahagia. Ini bukan perayaan. Ini lebih mirip napas panjang setelah tangis. Sebuah momen hening sebelum dunia kembali kacau. Tapi di momen itu, kita tahu: mereka masih di sini. Mereka masih terus berdansa. Selama ada musik, selama ada persahabatan, selama ada satu orang yang mau mendengar, api itu tak akan pernah padam.