EKSPRESIF. Ya, Anda berhasil, Sony & Netflix. Saya adalah target pasar yang tepat untuk film ini. Sebagai seseorang yang baru saja kembali larut dalam dunia K-Pop—dan masih menjadi ONCE (fandom dari TWICE), film ini terasa seperti love letter yang dikirimkan langsung ke hati saya. KPop Demon Hunters (2025) bukan sekadar animasi biasa, melainkan perpaduan segar antara elemen supernatural horror, energi panggung K-Pop, serta semangat sisterhood ala Powerpuff Girls yang dikemas dalam visual bombastis dan ritme penuh gaya.
Film ini bercerita tentang tiga anggota girlgroup K-Pop yang ternyata juga adalah pemburu iblis di balik gemerlap panggung. Rumi (Arden Cho), Mira (May Hong), dan Zoey (Yoo Ji-young) bukan hanya idol dengan fanbase global, tapi juga penyelamat dunia dari ancaman makhluk kegelapan. Mereka harus menghadapi boygroup iblis yang dipimpin oleh Jinu (Ahn Hyo-seop), makhluk tampan dengan aura mematikan yang justru jadi love interest-nya Rumi. Klise? Mungkin. Akan tetapi. gaya dan cara penyampaiannya membuat kisah ini terasa hidup dan menyenangkan.
Saya sudah lama menjadi penggemar gaya animasi Sony, terutama sejak Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018). Dan meskipun KPop Demon Hunters tidak semegah itu, film ini tetap tampil memikat dengan gaya visual yang mencolok—kombinasi 2D-3D yang terasa natural, kaya warna, dan berani, menghidupkan dunia yang vibrant dan magis. Setiap frame terasa seperti cuplikan dari video musik K-Pop, dengan pencahayaan yang flashy, transisi yang smooth, serta gerakan kamera yang dinamis. Pendekatan ini akan terasa sangat dekat untuk para penggemar KPop yang terbiasa mengonsumsi MV produksi keren dengan berbagai konsep.
Tidak hanya aspek visualnya yang menggoda, film ini juga tahu bagaimana memanfaatkan musik sebagai kekuatan utama. Setiap adegan aksi diiringi oleh soundtrack yang catchy dan energik, membuat penonton merasa seperti sedang menyaksikan konser virtual. Scoring-nya cerdas, mampu membangun ketegangan sekaligus menguatkan emosional karakter. Highlight bagi saya adalah saat lagu “Takedown” dimainkan—sebuah anthem girlpower yang sangat terasa personal bagi fans TWICE. Kehadiran Jihyo, Chaeyoung, dan Jeongyeon dalam pengisian suara maupun harmoni vokal jadi sentuhan manis yang bikin ONCE seperti saya terharu dan bangga.
Selain itu, desain karakter juga sangat mencuri perhatian. Masing-masing anggota HUNTR/X—nama grup mereka—punya kepribadian dan estetika yang khas. Rumi adalah leader dengan vocal yang magis, Mira si dancer yang punya kepercayaan diri tinggi, dan Zoey si rapper sekaligus maknae yang loveable. Ketiganya punya chemistry kuat dan benar-benar terasa seperti girlgroup yang nyata. Bahkan sisi antagonisnya, boygroup para iblis, Saja Boys, diberi desain yang cukup menggoda dan karismatik—tidak dibuat hitam-putih, justru penuh area abu-abu yang membuat mereka menarik untuk ditelusuri.
Memang, dari segi narasi, film ini tidak mencoba untuk menjadi sesuatu yang revolusioner. Plotnya cukup sederhana, bahkan bisa dibilang generik. Bahkan menurut saya, penyelesaian konfliknya terkesan murah—seperti terlalu dipaksakan agar segera berakhir. Akan tetapi, yang membuatnya menonjol adalah bagaimana mereka mengeksekusi premisnya dengan gaya khas animasi Sony dan keberanian menunjukkan ekspresi serta mengandalkan kekuatan visual dan musikal sebagai pendorong utama. Di tengah genre animasi yang kadang terlalu bermain aman atau terlalu konseptual, KPop Demon Hunters (2025) tampil sebagai hiburan penuh energi yang tahu siapa audiensnya dan tak ragu untuk bersenang-senang bersama mereka.
Film ini datang di momen yang tepat. Ketika film seperti Sinners (2025) hadir dengan pendekatan horor-musikal yang gelap dan reflektif—terutama aspek kultural orang-orang kulit hitam, KPop Demon Hunters (2025) memilih menjadi tontonan yang menyenangkan, penuh warna, dan mudah dicintai. Ia adalah pelarian yang stylish, campy, dan penuh referensi pop yang memanjakan para fans musik dan animasi.




