IMMERSIVE. Ya, kesan ini yang pertama kali muncul saat saya berjalan keluar dari teater setelah menonton F1: The Movie (2025). Pengalaman 'absolute cinema' ini memang sudah saya nantikan sejak pertama kali film ini diumumkan. Perlu diketahui bahwa saya adalah salah satu penggemar olahraga F1 sejak saya belia. Saya sudah menyaksikan ratusan balapan F1 dari layar kaca dan ini untuk pertama kalinya saya menyaksikannya dalam bentuk film di layar bioskop. Dan, ya, hasilnya memuaskan. F1: The Movie (2025) mampu memberikan pengalaman immersive sekaligus menghibur bagi siapa pun, tanpa terkecuali. Rasanya cukup mustahil jika ada penonton yang tidak bisa menikmati film ini.


Saya berani bilang seperti itu karena film ini benar-benar juara dari sisi teknis. Filmed for IMAX bukan sekadar label yang menempel pada poster. Ini imbauan—bahkan terasa seperti perintah—bagi calon penonton agar bisa menikmati pengalaman nonton yang tiada duanya—tentu dalam layar IMAX. Semua yang menyangkut aspek teknis dieksekusi dengan sangat maksimal. Saya merasa hampir tidak ada cela di sini. Pengalaman Kosinski, sang sutradara, yang pernah menggarap Top Gun: Maverick (2022) menjadi investasi yang mahal atas keberhasilan berbagai departemen teknis, terutama aspek sinematografi. Variasi gerakan kamera, angle, shot, itu benar-benar ciamik. Rasa-rasanya tidak perlu mempertanyakan keputusan Kosinski untuk menaruh kamera di berbagai titik di body mobil F1 yang Sonny Hayes (Brad Pitt) kemudikan, sebab itulah hal terbaik yang bisa kita dapatkan dari film ini. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika kamera ini merekam aspal lintasan Yas Marina Abu Dhabi dalam kecepatan mobil F1. "He's flying", begitu kira-kira line yang muncul dari salah satu karakter sebagai respon dari adegan ini.


Dari aspek teknis lainnya, scoring, Hans Zimmer adalah salah satu alasan di balik luar biasanya film ini. Gubahan Hans Zimmer memang jarang menemui kegagalan. Kemampuannya dalam menghasilkan emosi-emosi tertentu adalah ability yang selalu berhasil ia tawarkan dan itu berhasil ia lakukan di F1: The Movie (2025). Gubahan musik, ramai riuh lintasan balap, suara mesin jet darat, semuanya terharmonisasi dengan baik. Ketegangan, passion, serta berbagai perasaan yang dialami setiap karakternya pun berhasil diinterpretasikan dengan baik. Setelah apa yang ia ciptakan di Inception (2010), Man of Steel (2013), Interstellar (2014), Dune: Part Two (2024), dan kini di F1: The Movie (2025), mustahil rasanya untuk tidak menyertakan namanya dalam daftar orang yang harus diapresiasi. 

Film ini berusaha untuk benar-benar fokus pada sang karakter utama, Sonny Hayes (Brad Pitt) diperkenalkan sebagai seorang pembalap kawakan yang sudah sangat lama tidak menjejaki kakinya di lintasan Formula 1 karena insiden kecelakaan 3 dekade sebelumnya. Akan tetapi, ia tak sepenuhnya meninggalkan dunia balap. Pengenalan Sonny bahkan dimulai ketika ia menjadi salah satu pebalap di kompetisi bergengsi dunia, Daytona 24 Hours—kompetisi balap 24 jam. Tentu, lewat adegan pembuka ini, Kosinski ingin menunjukkan bahwa karakte Hayes adalah talenta yang tak pernah benar-benar redup, ia masih akan terus berusaha benderang, yang jalannya akan kita telusuri lewat film ini.


Aspek naratif dan karakterisasi film ini memang terasa Hollywood-based—teknis yang wah, pengembangan karakter dengan tone positif, zero to hero, dll. Seperti misalnya, kemunculan Kate (Kerry Condon), sebagai love interest Sonny. Kemudian ada Joshua Pierce (Damson Idris), yang merupakan rookie yang lebih dulu nangkring di tim yang Sonny bela. Nah, saya merasa dinamika antara Joshua dengan Sonny masih belum dimaksimalkan. Penulisan karakter Josh yang medioker mungkin jadi salah satu faktor. Namun, meski masih harus lebih digali kedalaman emosi serta dinamikanya, hubungan mereka dengan Sonny terbilang cukup mampu memberikan opsi untuk rehat sejenak dari gemerlapnya olahraga ini—sebab F1 memang salah satu olahraga paling mahal di dunia. Mungkin chemistry yang bisa saya nikmati adalah hubungan persahabatan Ruben Cervantes (Javier Bardem) dengan Sonny. Sisanya masih perlu digali. Untuk departemen acting, hampir tiada cela, terutama Brad Pitt yang tak perlu diragukan kualitasnya. Flawless. 

Saya juga perlu mengapresiasi desain produksinya yang benar-benar gila. Mobil Formula 1 itu bukan sembarang mobil balap. Julukan jet darat bukan tanpa alasan. Komitmen Kosinski serta Apple TV untuk menciptakan livery sendiri khusus untuk film ini patut diacungi jempol. Sebagai penggemar F1, saya sangat suka desain mobil yang dikemudikan oleh Sonny Hayes dan Joshua Pierce. Keren, seolah tak mau kalah garang dengan constructor yang sudah eksis sebelumnya seperti Mercedes, Red Bull, atau Ferrari. 


Sebagai penggemar F1, film ini terkesan rada 'curang'. Berbagai fan service tenryata sudah disiapkan, seperti munculnya berbagai cameo: Charles Leclerc, Max Verstappen, Lando Norris, Fernando Alonso, dan tentu saja, Lewis Hamilton, sang pemegang 7x juara dunia yang juga merupakan produser film ini. Saya tak bisa menolak, justru itu yang membuat penggemar F1 menjadi lebih hormat terhadap film ini. 

Percampuran realitas dan fiksi justru menjadi daya tarik film ini. Kami, penggemar F1, merasa sangat dilibatkan di dalamnya, detil-detil seperti paddock, keberadaan team principal dan strategi yang krusial, serta munculnya teknologi-teknologi advance yang memang hanya F1 yang punya, yang selain memberikan keterlibatan, detil-detil tersebut juga memiliki fungsi informatif kepada penonton awam. Selain tampil sebagai tontonan yang immersive nan gagah, F1: The Movie (2025) juga berhasil menjadi jembatan bagi penonton yang ingin tahu lebih dalam mengenai F1, kompetisi balap paling bergengsi di dunia.