GETIR. GDH kembali beraksi dengan sajian coming-of-age terbarunya berjudul Flat Girls (2025) yang disutradarai oleh Jirassaya Wongsutin—sebuah kisah remaja perempuan yang hangat, getir, dan tajam dalam membedah cinta, jati diri, hingga realitas sosial yang seringkali menampar mereka yang masih belajar bertahan hidup.
Dua karakter perempuan yang menjadi pusat cerita adalah sahabat karib sejak lahir, tumbuh dan besar di rusun yang sama, bahkan lahir dari latar belakang keluarga yang serupa: ayah mereka mantan polisi. Tapi garis nasib membelokkan mereka ke jalan yang berbeda. Jane (Kirana Pipityakorn) punya waktu yang lebih lama hidup bersama ayahnya, sedangkan Ann (Fatima Dechawaleekul) tidak. Perbedaan kecil ini perlahan tumbuh menjadi jurang—yang tak terlihat pada awalnya, namun makin nyata seiring berjalannya cerita.
Ya, pada awalnya saya mengira ini hanya sajian coming-of-age biasa. Di babak pertama, naskahnya masih setia pada dinamika antara Jane, Ann, serta kawan-kawannya yang sedang merayakan masa remaja mereka. Sang sutradara cukup sabar untuk memberikan kita kesempatan untuk sepenuhnya terkoneksi dengan kisah manis Jane dan Ann.
Adegan-adegan seperti bermain bulutangkis di lapangan sempit tengah-tengah rusun, saling menempelkan bulu mata sambil tertawa, hingga menyaksikan kapal pesiar dari kejauhan menjadi bumbu yang efektif untuk membawa kita masuk ke kehidupan mereka. Bulu mata yang ditempel bersama itu seakan simbol kecil dari upaya mereka untuk saling terkoneksi dalam perasaan cinta, meski dunia luar tak pernah benar-benar memberi ruang untuk itu. Latar rumah susun yang jadi potret kelas menengah ke bawah turut menambah empati. Lorong-lorong sempit rusun menjadi saksi bisu tumbuhnya cinta dan luka dalam waktu yang bersamaan. Film ini tidak tergesa. Ia membiarkan penonton duduk, diam, lalu menyelam perlahan.
Namun, sang sutradara tampak enggan untuk tetap bermain di permukaan. Memasuki babak kedua hingga akhir, masalah yang dimunculkan ternyata jauh lebih luas. Jirassaya mengajak penonton melihat realitas yang lebih pahit—kemiskinan struktural. Inilah akar dari semua konflik. Ann menjadi karakter yang paling terdampak. Kehilangan ayahnya bukan cuma duka; itu adalah titik balik menuju kehancuran: utang yang membelit, ibunya yang terjerat judi, hingga hilangnya kepercayaan terhadap mimpi dan masa depan.
Kapak kehidupan menghantam pelan tapi pasti—bukan dengan dramatisasi, tapi lewat realitas yang dingin dan tak memihak. Jane berusaha mencintai dan menyelamatkan Ann. Tapi cinta, seperti yang diucapkan Ann dengan getir, bukan untuk mereka yang tak punya apa-apa. “Cinta itu milik orang berduit,” begitu kira-kira jeritan Ann yang menghujam.
Namun di antara babak kedua dan ketiga, fokus film ini mulai goyah. Terlalu banyak subplot yang dihadirkan, terlalu banyak air mata yang dipancing dari berbagai arah. Ada kesunyian di balik tawa-tawa mereka, seolah setiap kebahagiaan kecil hanyalah jeda dari rasa putus asa yang menunggu giliran. Saya menangis, ya, tapi bukan karena ceritanya terasa tajam. Saya menangis karena film ini tahu tombol mana yang harus ditekan untuk membuat kita luluh. Dan itu, jujur, agak mengecewakan.
Film ini seharusnya lebih berani untuk tetap bersama Jane dan Ann—dua jiwa yang jadi denyut nadi dari narasinya. Ann dan Jane seperti berdiri di dua sisi jembatan yang sama: saling menatap, tapi tak lagi bisa menjangkau. Unsur romansa yang seharusnya menjadi kekuatan malah kehilangan pijakan di beberapa titik penting.
Tentu, ini bukan film coming-of-age yang sempurna. Masih banyak kekurangan di sana-sini. Tapi usahanya untuk menyuarakan keresahan sosial, menghadirkan empati, dan memberi ruang bagi cerita dari pinggiran layak kita apresiasi. Flat Girls (2025) adalah tentang tumbuh dewasa di tengah dunia yang tak ramah. Tentang cinta yang ingin hidup, tapi dipenjara oleh keadaan. Dan tentang dua gadis remaja yang berusaha saling menggenggam, meski kenyataan perlahan melepas tangan mereka satu per satu.





