"I’m not good on my own. I just pretend to be.”

RENUNG. Kalimat di atas meluncur lirih dari bibir Jina (Gong Seung-yeon), dan sejak saat itu, kita tahu bahwa Aloners (2021) bukan sekadar kisah tentang kesendirian. Ini adalah potret getir tentang manusia yang dengan sadar menarik diri, memilih untuk berada di luar jangkauan, bukan karena tak mampu menjalin koneksi, tapi karena koneksi itu—dalam dunia yang sibuk, berisik, dan tak kenal ampun—telah menjadi hal yang terlalu mahal. Terlalu rumit. Terlalu melelahkan.

Jina bekerja sebagai karyawan customer service di perusahaan kartu kredit bernama IB Card. Ia bukan orang yang gagal dalam hidup. Bahkan, di mata orang, Jina adalah pribadi yang rapi, mandiri, dan efisien. Ia datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan dengan akurat, tak banyak drama, tak banyak tanya. Akan tetapi, di balik performa itu, ada kekosongan yang mengendap. Hari-harinya dibungkus dalam rutinitas yang steril. Bangun pagi. Sarapan diam-diam. Pergi kerja dengan earphone terpasang sebagai tembok isolasi yang tak terlihat. Tak ada obrolan basa-basi. Tak ada hasrat untuk dikenal, apalagi memahami. Saat tetangganya meninggal dunia, Jina tidak tahu—karena ia tak pernah membuka ruang untuk tahu.

Dalam kesendirian yang ia pelihara, Jina tampak “baik-baik saja”. Tapi di situlah letak tragedinya. Aloners (2021) mencoba mengajukan pertanyaan tajam yang menggema: bagaimana jika kesendirian bukan sesuatu yang menimpa, tapi sesuatu yang kita bangun sendiri? Jina tidak hanya sendiri. Ia memilih untuk sendiri. Dan film ini tidak menghakimi pilihan itu. Ia hanya mengajak kita melihat lebih dalam: dari mana kesendirian ini berasal, dan ke mana ia akan membawa.

Sutradara Hong Sung-eun merangkai semesta batin Jina dengan kesabaran dan kehalusan dalam bereksposisi. Ia tidak terburu-buru menunjukkan luka. Tapi satu demi satu, lapisan demi lapisan, luka itu muncul. Ada trauma karena perselingkuhan ayahnya. Ada luka yang belum pulih karena kehilangan ibu. Ada tekanan dunia kerja yang makin kejam. Ada relasi-relasi yang rusak, tidak sempat tumbuh, atau ditinggalkan begitu saja. Dalam kondisi seperti ini, kita bisa memahami mengapa Jina merasa bahwa menutup diri adalah langkah yang paling logis, paling aman, dan paling tidak menyakitkan.

Namun, pelan-pelan, film ini membisikkan satu kebenaran universal: manusia, sekuat dan sedingin apapun ia berpura-pura, tetaplah makhluk yang butuh terhubung. Koneksi adalah kebutuhan mendasar, bukan benda tersier. Dan meski kita berusaha keras untuk menghindarinya, rasa lapar akan kehadiran orang lain tetap akan menemukan jalan pulangnya. Jina mungkin merasa cukup dengan memantau ayahnya lewat CCTV, tapi kamera tak bisa menggantikan tatapan, tak bisa menggantikan sentuhan, serta tak bisa menjahit hubungan yang sudah terlalu lama robek.

Ada satu momen kecil yang menyentuh—di mana rekan kerja barunya, seorang gadis muda yang kikuk dan terlalu banyak bicara, mencoba membuka obrolan. Respons Jina dingin. Tapi percakapan itu, sependek dan secanggung apapun, menciptakan celah. Celah di dinding sunyi yang selama ini ia bangun begitu rapi. Dan dari celah itulah, pelan-pelan, cahaya masuk.

Yang paling saya sukai dari Aloners (2021) adalah bagaimana film ini berani untuk tidak dramatis. Ia tidak mencoba memaksa Jina berubah secara radikal. Tidak ada transformasi instan. Tidak ada adegan klimaks penuh air mata. Jina tetap Jina—introvert, pendiam, penuh jarak. Namun, di akhir film, ia melakukan satu hal kecil: membuka jendela kamarnya, yang sejak awal film selalu tertutup. Adegan ini sederhana, nyaris tidak bersuara. Tapi, justru di sanalah kekuatan film ini terletak. Ia mengerti bahwa perubahan tidak selalu harus keras dan gamblang. Kadang cukup dengan satu tarikan napas. Satu bukaan jendela. Satu langkah menuju kemungkinan baru.

Aloners (2021) tidak memberi solusi. Ia hanya memberi ruang—ruang untuk memahami diri sendiri, ruang untuk memaafkan luka, dan mungkin, ruang untuk kembali membuka pintu yang sudah lama terkunci. Film ini terasa sangat personal, tapi sekaligus universal. Sebab siapa di antara kita yang tak pernah, bahkan untuk sesaat saja, ingin memilih sunyi daripada bisingnya koneksi? Siapa di antara kita yang tak pernah berharap bisa hidup tanpa perlu menjelaskan diri?

Pada akhirnya, film ini mengingatkan: tak peduli seberapa canggih dunia kita, atau seberapa nyaman kita bersembunyi di balik gawai dan dinding virtual—kita tetap butuh orang lain. Mungkin hanya satu. Mungkin cukup dengan seseorang yang mengetuk jendela kita dan bertanya, “Kamu baik-baik saja?” Dan kalau kita cukup berani, mungkin... kita akan bersedia menjawabnya.