BALLERINA ASSASSINA MIMIMIMI. Waralaba John Wick kembali menyapa penggemarnya—bukan dengan langkah kaki John, tapi dengan tarian balerina yang membawa luka dan dendam. From the World of John Wick: Ballerina (2025) hadir sebagai semacam napas baru; bukan sekadar spin-off, tapi percobaan untuk mendefinisikan ulang dunia yang telah dibangun Keanu Reeves dalam empat film sebelumnya.


Kali ini, kita diajak mengikuti jejak Eve (Ana de Armas), seorang balerina muda yang dipaksa menari di atas bara dunia distopia: Ruska Roma, Continental, dan organisasi bawah tanah lainnya. Gun fu—gabungan adu senjata dan kungfu yang jadi DNA koreografi John Wick—perlahan diwariskan pada tangan baru. Dan tangan itu, kali ini, milik seorang perempuan. Eve harus memilih jalan hidupnya setelah ayahnya terbunuh secara tragis. Peristiwa itu menjadi titik awal yang mendorongnya masuk ke dalam dunia Ruska Roma, tempat John Wick pernah “bersekolah” dan ditempa. Menurut saya, keputusan naskah untuk memperkenalkan kembali Ruska Roma lewat sudut pandang Eve adalah langkah yang cerdas. Penonton jadi bisa mengenal dari dalam bagaimana institusi keras ini membentuk para petarung: dari disiplin brutal hingga ritual yang bisa kapan saja meregang nyawa.

Di departemen naskah dan teknis, pengenalan karakter Eve dieksekusi dengan apik. Sinematografi yang indah, ritme editing yang presisi, dan sound design yang menggigit berpadu membentuk harmoni yang mencolok. Musik klasik “Fake Swan” karya Tchaikovsky menjadi latar yang pas—melodi elegan yang kontras dengan kekerasan latihan fisik yang harus Eve jalani. Aura Ana de Armas begitu kuat, dan walau beberapa momen ia masih terasa seperti dirinya sendiri, bukan Eve, performanya tetap menyisakan kesan yang tajam. Pengembangan karakternya memang tak lepas dari pakem yang klise: balas dendam. Sejak awal film, kita sudah bisa menebak bahwa dendam menjadi bahan bakar utama perjalanan Eve. Dari tatapan matanya saat latihan, dari tubuhnya yang terus jatuh dan bangkit, kita tahu bahwa ia belum menguasai teknik, tapi sudah dikuasai tekad. Fisiknya pun diakui sebagai titik lemah, namun bukan untuk dikasihani—karena dari titik itulah muncul mantra yang akan mendefinisikan karakternya: fight like a girl.


Dan ya, meski terdengar sederhana dan sering disalahartikan, fight like a girl di sini bukan ejekan. Ia adalah bentuk revolusi. Eve bukan Baba Yaga. Ia bukan mitos hidup. Ia bukan manusia legenda seperti John Wick. Eve adalah anak baru—rapuh, bimbang, mentah. Tapi, dari situlah keindahannya berasal. Proses bertumbuhnya, dari seseorang yang terus dijatuhkan menjadi seseorang yang belajar mengenali celahnya sendiri, menjadi inti emosional film ini. Saat ia memanfaatkan sepatu ski untuk menggantikan pisau, atau saat ia menggunakan pecahan piring dan kaca sebagai senjata darurat, kita tahu dia bukan sedang meniru John Wick—dia sedang menciptakan gaya bertarungnya sendiri.

Ekspektasi terhadap waralaba ini sudah jelas: gun fu yang gemilang, world building yang kaya, dan kemasan teknis yang nyaris selalu menggoda. Untungnya, film ini cukup sukses menjawab tantangan itu. Eksposisi mengenai Ruska Roma diperluas, memberikan fondasi naratif yang kuat. Selain itu, kita juga dikenalkan pada organisasi baru yang diposisikan sebagai antagonis utama dalam perjalanan Eve. Semua itu jadi pemanasan untuk sekuens aksi di babak kedua dan ketiga yang gila.


Jelas masih ada banyak hal baru yang ditawarkan, terutama dari segi teknis. Sinematografi tetap mempertahankan warna-warna vibrant dengan kontras tajam, khas John Wick. Koreografi gun fu masih jadi tulang punggung, namun dikembangkan untuk menyesuaikan dengan karakter Eve yang lebih lincah dan improvisatif. Momen favorit saya adalah saat alat pelontar api digunakan dalam satu adegan aksi yang tak hanya brutal, tapi juga koreografis dan indah. Rasanya seperti menyaksikan kekacauan yang menghasilkan eyegasm: ketika air dan api bertarung di atas tanah bersalju. Tentu saja ini adegan terfavorit saya dari franchise John Wick, setelah adegan long take drone view di John Wick Chapter 4 (2023).

Namun, sayangnya, tak semua hal baru berjalan mulus. Adegan pembuka film ini terasa kurang kuat. Masa lalu Eve dan hubungan dengan sang ayah disajikan dengan naskah yang hambar dan performa akting yang kurang menggigit. Padahal, momen ini seharusnya menjadi pintu masuk bagi empati penonton terhadap Eve. Koreografi pertarungan pun masih terasa kurang dinamis di beberapa adegan awal—terlalu lambat, minim variasi, dan kurang greget. Hal ini membuat babak pertama gagal menjadi fondasi emosional yang solid. Selain itu, saya juga sempat berharap Ballerina—gerakan balet—akan menjadi gerakan ciri khas bertarung ala Eve, tetapi hal itu tampaknya disimpan atau memang hanya dijadikan simbol semiotik yang harus kita resapi dengan jeli.


From the World of John Wick: Ballerina (2025) adalah percobaan yang berani dan penuh potensi. Ia menari di antara warisan dan pembaruan. Di satu sisi, ia mencoba menghormati DNA dunia John Wick dengan mempertahankan koreografi khas dan dunia gelap yang misterius. Di sisi lain, ia memperkenalkan sosok Eve—yang tidak sempurna, yang penuh celah, tapi justru karena itu, terasa lebih manusiawi. Film ini bukan tentang menjadi seikhlas John Wick, melainkan tentang bagaimana menjadi Eve sepenuhnya. Seorang gadis yang bertarung dengan luka, berdansa dengan trauma, dan membangun kekuatan dari rasa takut yang coba ia kalahkan hari demi hari. Tak ada yang sempurna, bahkan Baba Yaga John Wick juga tumbuh dari rasa sakit.

Last but not least, untuk pertama kalinya dalam waralaba ini, kita menyaksikan pertarungan yang bukan tentang kemenangan, tapi tentang menjadi. Dan Eve, si balerina pembawa dendam, akhirnya berhasil berdiri tegak, bukan sebagai bayangan John Wick, tapi sebagai dirinya sendiri.