SADIS. Saya bukan penggemar setia waralaba Predator. Bahkan, saya bisa termasuk skeptis karena beberapa film sebelumnya hampir selalu mengecewakan. Bagi saya, film pertama Predator (1987)—dengan atmosfer gerah, tubuh-tubuh kekar, dan teror tak kasat mata di belantara—masih jadi puncak dari segalanya. Sebuah film yang tak hanya mendefinisikan “man vs monster” dalam medium aksi, tapi juga menggambarkan konflik maskulinitas dalam bentuknya yang paling mentah. Sejak saat itu, tak satu pun sekuel, reboot, atau bentuk lain yang benar-benar mampu menandingi kesan primal yang ditinggalkannya hingga akhirnya muncul Dan Trachtenberg dan animasi.
Pertama kali ia hadir lewat Prey (2022), Trachtenberg membuktikan bahwa kekuatan Predator justru terletak pada kesederhanaannya: satu manusia, satu alien, satu arena pertarungan hidup dan mati. Ia membawa kembali insting berburu yang nyaris terlupakan oleh waralaba ini. Kini, lewat Predator: Killer of Killers (2025), ia melangkah lebih jauh—bukan hanya ke masa lalu, tetapi juga ke medium animasi, tempat di mana batasan realitas dihancurkan dan digantikan oleh imajinasi paling liar.
Animasi sering kali dipandang sebagai medium yang "lebih ringan", tapi di tangan Trachtenberg, justru sebaliknya. Predator: Killer of Killers (2025) adalah film paling brutal dalam waralaba ini—bukan hanya dari segi kekerasan visual, tetapi dari atmosfer dan cara narasi bergerak: dingin, perlahan, lalu meledak. Setiap frame-nya seperti lukisan yang mengandung darah, keringat, dan sejarah. Ini bukan animasi untuk hiburan; ini museum kekejaman, tiga diorama tentang manusia yang dihadapkan pada kematian berbentuk alien.
Kisahnya dibagi dalam tiga linimasa yang jelas sekaligus saling bersahut: The Shield (tahun 841), babak ini menyorot Ursa (Lindsay LaVanchy), pemimpin pasukan Viking yang hidup di garis perbatasan dunia manusia dan mitos. Latar film dipenuhi salju dan darah, lautan Nordik yang penuh ombak, serta hutan-hutan Skandinavia yang sunyi. Visualnya didominasi warna-warna dingin, dengan semburat merah dari pertempuran brutal yang tak mengenal belas kasihan. Cara Ursa bertarung bukan dengan kecerdikan, melainkan dengan kekuatan fisik murni dan cara bertarung yang tak kenal ampun—seolah ia sendiri adalah dewa perang Nordik. Di sini, Predator tak hanya jadi ancaman, tapi semacam ujian spiritual bagi kaum barbar yang percaya dunia ini hanya dimiliki oleh yang terkuat.
Kemudian The Sword (tahun 1609)—babak favorit saya. Ditarik jauh ke Jepang feodal, kita bertemu Kenji dan Kiyoshi (Louis Ozawa), dua saudara ninja dari klan yang tersisa. Latar hutan bambu, hujan tipis, dan kabut tipis yang menyelimuti malam menghadirkan suasana yang lebih meditatif. Koreografi pertarungannya elegan, mengingatkan pada Samurai Champloo yang bertemu Rurouni Kenshin versi berdarah dingin. Setiap gerak mereka seperti tarian; setiap luka seperti puisi pahit. Predator di sini seperti siluman dalam legenda Jepang, tak terlihat namun mematikan, dan Kenji harus memilih antara kehormatan klan atau naluri bertahan hidup. “Show, don’t tell” jadi prinsip utama di babak ini. Nyaris tanpa dialog, hanya gambar dan suara alam yang berbicara.
Sebelum klimaks, The Bullet (tahun 1942) mengambil alih—Latar berpindah ke Eropa dalam Perang Dunia II. Torres (Rick Gonzalez), seorang pilot Amerika yang pesawatnya ditembak jatuh, terjebak di hutan yang membara. Ini adalah babak paling “Hollywood”, dengan ledakan, senapan mesin, dan tempo cepat. Visualnya didominasi warna tanah dan logam, dan Predator di sini tampil sebagai makhluk pemburu modern yang menyesuaikan diri dengan perang manusia. Meskipun terasa paling generik dibanding dua babak sebelumnya, babak ini tetap memberi ruang untuk adrenalin bekerja. Seolah penonton diberi kesempatan untuk bernapas—sebelum akhirnya dihantam klimaks.
Ketiga linimasa ini bukan hanya potongan-potongan waktu; mereka seperti lukisan dinding di kuil tua—menceritakan zaman, nilai, dan jenis manusia yang berbeda. Tapi, benang merahnya tetap sama: manusia yang mencoba bertahan dari makhluk pemburu yang jauh lebih unggul. Ketika akhirnya film memasuki babak terakhir, ketiganya berpadu dalam sebuah rangkaian klimaks yang penuh amarah dan keputusasaan. Perkelahian puncak ini bukan hanya pertarungan fisik, tapi juga semacam perayaan akan jiwa manusia yang tak mudah dikalahkan.
Yang paling saya apresiasi dari Predator: Killer of Killers (2025) adalah keberaniannya untuk mundur ke masa lalu, bukan ke masa depan. Di saat banyak waralaba fiksi ilmiah berlomba menciptakan dunia futuristik, film ini justru mengajak kita masuk ke zaman-zaman ketika manusia masih liar, masih punya insting berburu, masih mengenal kehormatan dan pembalasan dendam. Ini bukan nostalgia, tapi semacam ritual purifikasi—kembali ke akar, ke bentuk paling awal dari pertarungan hidup dan mati.
Karena pada akhirnya, yang membuat Predator menakutkan bukan karena teknologinya, tapi karena ia memaksa manusia menelanjangi semua peradabannya dan kembali ke satu hal: bertahan hidup. Dan Predator: Killer of Killers (2025) membuktikan bahwa bahkan dalam bentuk animasi, bahkan tanpa aktor manusia seutuhnya, ketegangan itu tetap terasa. Mungkin bahkan lebih dari sebelumnya. Waralaba ini akhirnya menemukan suaranya kembali. Suara itu adalah raungan dalam gelap, dari hutan, dari udara, dari kuil-kuil di masa lalu. Suara predator sejati. Let's go hunt!





