MAGIS & MONUMENTAL. Itulah dua kata pertama yang muncul di benak saya sejak adegan pembuka Sore: Istri dari Masa Depan (2025) menyapa via layar. Sebuah kata sederhana, tapi terasa begitu kuat, seolah merangkum seluruh pengalaman menonton film ini. Ia bukan sekadar menghibur, tapi membekas—mengalir bersama emosi, menggugah perenungan, dan menyisakan ruang untuk rasa yang sulit dijelaskan dengan logika. Dalam banyak hal, film ini menawarkan sesuatu yang belum pernah saya temui dalam perfilman Indonesia. Dan mungkin—berani saya katakan—belum akan ada yang mampu menandingi dalam waktu dekat. Terlalu jujur, terlalu dalam, terlalu penuh cinta. Film ini begitu.... magis dan monumental.


Setelah mengguncang batas narasi lewat Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023)—yang hingga kini masih saya anggap sebagai film Indonesia terbaik sepanjang masa—Yandy Laurens kembali hadir dengan gebrakan yang lebih radikal. Kali ini, ia tidak hanya menantang struktur cerita. Ia bermain dengan waktu. Dengan ruang. Dengan manusia dan perasaannya. Premisnya memang berasal dari web series yang ia lahirkan delapan tahun lalu. Tapi versi layar lebarnya adalah reinkarnasi. Sebuah jiwa baru dari tubuh yang lama—lebih matang, lebih kompleks, lebih menyentuh. Yandy adalah orang yang sangat mengerti bahwa kekuatan utama sebuah cerita bukan terletak pada kecanggihan premisnya, tapi pada ketulusan penceritaannya. Ia tidak tertarik menjejalkan teori perjalanan waktu atau teknologi masa depan ke dalam naskahnya. Sebaliknya, ia memilih untuk menggali sisi terdalam dari jiwa manusia: luka, penyesalan, keberanian untuk berubah, dan cinta yang tak mengenal logika. Ini bukan kisah tentang mesin waktu. Ini kisah tentang seseorang yang ingin memperbaiki hidup orang yang dicintainya—bahkan jika harus melawan waktu itu sendiri.

Naskahnya nyaris tanpa cela. Penulisan karakternya terasa seperti surat panjang dari seseorang yang mencintai tokohnya dengan sepenuh hati. Setiap keputusan cerita diambil dengan penuh kehangatan, kesabaran, dan ketulusan. Dan semua itu tidak berdiri sendiri—karena Yandy juga tahu cara menerjemahkan perasaan tersebut ke dalam aspek teknis yang mendukungnya secara utuh. Inilah pencapaian penyutradaraan terbaik dalam kariernya sejauh ini. Padahal sebelumnya, Yandy sudah membuktikan kelasnya lewat Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) dan 1 Kakak 7 Ponakan (2024). Kejelian Yandy dalam menyatukan semua elemen memang pantas diacungi jempol. Sinematografinya terasa puitis, scoring musiknya menyatu dengan jiwa cerita, dan editing-nya bergerak dengan lembut tanpa pernah terasa terburu-buru. Semua aspek produksi ini terasa seperti satu tarikan napas yang sama—harmonis, mengalir, dan bernyawa.


Tokoh Jonathan (Dion Wiyoko) mungkin menjadi salah satu karakter terbaik yang pernah ditulis Yandy. Jika dalam versi web series ia tampil sebagai fotografer yang hanya menunjukkan result, maka dalam versi filmnya Jonathan berkembang menjadi sosok yang jauh lebih rapuh sekaligus dalam. Dion Wiyoko tampil luar biasa di sini, menjadi representasi perasaan penonton yang berusaha memahami keajaiban dan absurditas yang menimpa Jonathan. Adegan pembuka yang memperlihatkan Jonathan memotret lanskap di Kutub Utara bukan sekadar visual cantik. Di balik salju, aurora, dan kesunyian yang menggetarkan, kamera Yandy menangkap keretakan yang tersembunyi—kesepian yang membeku bersama es, dan rasa hampa yang tak pernah diakui. Jonathan memutuskan tinggal di Kroasia, hidup dalam keterasingan, hanya ditemani oleh sahabat lamanya: botol-botol alkohol dan puntung rokok yang tak pernah selesai. Ia bekerja dibantu Karlo (Goran Bogdan, tampil memikat sebagai karakter pendukung), namun pada dasarnya Jonathan hancur pelan-pelan—baik secara fisik maupun jiwa. Ia peduli pada kerusakan alam, tapi mengabaikan kehancuran dirinya sendiri. 

Hingga suatu pagi, seorang perempuan muncul tiba-tiba di sampingnya, di ranjangnya, memperkenalkan diri sebagai... istrinya dari masa depan. Sore (Sheila Dara Aisha) tampil dengan aura yang hampir seperti mimpi: misterius, menenangkan, dan perlahan menghipnotis. Awalnya terasa seperti sosok yang jauh dari dunia nyata, tapi seiring cerita berjalan, tatapan matanya mulai menggambarkan kekuatan cinta yang konkret—dalam, kuat, dan menyembuhkan. Sore juga merupakan karakter yang sangat baik ditulis. Ia, melalui tinta ajaib Yandy Laurens dan penerjemahan yang baik dari Sheila Dara, berhasil mendefinisikan bentuk cinta paling unik dan kuat yang pernah saya saksikan.


Yang membuat film ini semakin luar biasa adalah bagaimana Yandy membagi ceritanya ke dalam tiga babak: Jonathan, Sore, dan Waktu. Bukan pembagian klise ala third-act structure biasa, tapi semacam fragmen jiwa yang menggambarkan perjalanan karakter dan tema yang ingin diangkat. Dua babak pertama membangun fondasi emosi dan dinamika, sementara babak terakhir adalah ledakan rasa. Saya tak akan membocorkan alurnya. Film ini terlalu indah untuk dirusak dengan penjelasan. Yang pasti, ini adalah pengalaman menonton yang reflektif, emosional, dan tak mudah dilupakan.

Aspek lain yang layak diberi pujian tinggi adalah desain suara, scoring, dan pemilihan lagu. Sound design-nya bukan sekadar pelengkap, tapi bagian integral dari cerita. Musiknya menyatu sempurna dengan gambar, menciptakan atmosfer yang tidak hanya menyentuh telinga, tapi juga hati. Favorit saya adalah sekuens klimaks menuju ending—ketika di pameran fotografi Jonathan—yang diiringi lagu "Terbuang dalam Waktu" karya Barasuara, digubah ulang oleh Ofel Obaja. Adegan tersebut—saya tidak berlebihan—adalah salah satu adegan terbaik, paling emosional dan sinematik yang pernah saya saksikan dalam film Indonesia. Saya akan terus mereferensikan dan mengingat adegan ini selamanya. Bahkan rasa yang dihasilkan dari adegan-adegan itu masih bergema di kepala saya hingga sekarang. 


Kesimpulannya, Sore: Istri dari Masa Depan (2025) adalah sebuah keindahan. Sebuah perenungan. Sebuah karya yang tidak sekadar bercerita, tapi menyentuh sesuatu yang mungkin selama ini tersembunyi di dalam diri kita. Yandy Laurens, saya tak tahu harus bilang apa lagi selain memuji kepiawaiannya. Darinya, saya belajar bahwa apa pun medianya, cerita adalah hal paling penting dalam sebuah karya dan subjektivitas penulisnya adalah hal yang paling mahal. Oleh karenanya, sulit diimitasi oleh siapa pun. Yandy terlahir untuk bercerita, bahkan kemampuannya bisa mendefinisikan suatu rasa menjadi lebih kaya adalah identitasnya. Setelah Jatuh Cinta Sepertvi di Film-Film (2023), Yandy tak berhenti, lewat Sore: Istri dari Masa Depan (2025), tintanya masih akan terus bernyanyi dalam kejujuran dan kekayaan rasa.