GOOD START. Dua kata yang rasanya cukup pantas untuk menggambarkan kesan awal terhadap Superman (2025). Film ini menjelma sebagai titik mula yang menjanjikan dalam kelahiran kembali semesta DCU (DC Universe)—kini dinamai DC Studios—sebuah ikhtiar yang bukan sekadar menambal kegagalan-kegagalan masa lalu, tetapi juga menyusun ulang arah langkah waralaba yang sempat kehilangan identitasnya.
Pasca era Snyder yang megah namun kerap mengundang kontroversi, film-film seperti Black Adam (2022), The Flash (2023), Blue Beetle (2023) dan Aquaman and the Last Kingdom (2023) justru mempertegas rasa letih kolektif terhadap genre superhero yang makin kehilangan napasnya. Di tengah lanskap yang begitu pengap dan jenuh, Superman (2025) datang bagai celah jendela yang terbuka di siang bolong—angin segar yang menyusup lembut, menyapu udara basi yang lama bersarang. Di balik jendela itu, berdirilah James Gunn, meniupkan harapan baru ke dalam dunia para pahlawan.
Namun film ini lebih dari sekadar “baik secara teknis.” Ia bukan hanya menyuguhkan pengalaman blockbuster yang megah, melainkan menghidupkan kembali makna kepahlawanan yang selama ini hanya menjadi gema samar di layar lebar. Ia menyentuh kembali inti yang membuat sosok seperti Superman begitu dicintai sejak awal: keberanian yang lahir dari kasih, empati yang tak pilih-pilih, dan pengorbanan yang tak minta balasan. Tak heran jika film ini banyak disebut sebagai permulaan yang menggembirakan—sebuah pondasi kuat untuk narasi besar DC yang tengah dibangun.
Clark Kent versi David Corenswet bukanlah figur asing yang baru menginjak bumi. Ia telah hidup di antara manusia selama tiga dekade dan menjelma sebagai Superman selama tiga tahun terakhir. Maka, film ini tak lagi mengulang kisah asal-usul Kal-El yang sudah berkali-kali dituturkan dalam berbagai adaptasi. James Gunn seolah mengajak penonton masuk lewat pintu belakang—langsung ke ruang tamu yang telah tertata, penuh jejak hidup, dengan segala harmoni dan konfliknya. Clark bahkan telah menjalin hubungan dengan Justice Gang seperti Guy Gardner/Green Lantern (Nathan Fillion), Mr. Terrific (Edi Gathegi), dan Hawkgirl (Isabela Merced). Cintanya dengan Lois Lane (Rachel Brosnahan) telah tumbuh mapan, dan permusuhannya dengan Lex Luthor (Nicholas Hoult) pun mencapai titik kulminasi. Semua itu disajikan tanpa pengantar panjang, seperti halaman ketiga dari novel yang telah berjalan—sebuah dunia yang sudah lama berdetak. Salah satu adegan memperlihatkan ini dengan cerdas sekaligus jenaka: seorang pria paruh baya duduk santai di kafe kecil, menyesap kopi sembari menyaksikan pertarungan hebat Superman dari kejauhan. Tak ada panik, tak ada sorak—hanya ketenangan. Karena Superman telah menjadi bagian dari lanskap keseharian.
Cerita bermula saat Superman berada di titik nadir. Untuk pertama kalinya, sang metahuman terkuat mengalami kekalahan. Ia bahkan membutuhkan bantuan dari anjing kesayangannya, Krypto. Dari sini, narasi yang disusun James Gunn mulai menjauh dari pakem klise film superhero. Beberapa kali kita melihat Superman kesulitan menghadapi ancaman Lex Luthor. Bukan karena ia lemah—justru karena kemenangan bukanlah tolok ukur tunggal bagi pahlawan sejati. Superman adalah cermin dari sisi terbaik umat manusia: ia yang tetap melihat kebaikan, bahkan di dunia yang penuh luka. Setiap kali ia terbang dan denting nada tema ikoniknya mengalun, harapan akan dunia yang lebih adil menyeruak dari balik awan kelabu.
Sebagai seseorang yang telah lama mengikuti semesta DC Comics, saya merasakan keistimewaan dari pendekatan film ini. DC, sejak awal, dikenal lewat eksplorasi karakter yang kompleks dan penuh lapisan. Dan Superman—di titik pusat semua itu—selama bertahun-tahun kerap digambarkan sebagai sosok adidaya yang nyaris seperti dewa: sempurna, tak tersentuh, jauh dari jangkauan empati manusia. Figur ini tercipta sejak era Christopher Reeve, dan diperkuat oleh Henry Cavill dalam interpretasi Snyder. Tak jarang, ia tampil sebagai kekuatan yang rawan menyimpang, bahkan cenderung manipulatif jika dibaca dalam konteks tertentu.
Namun James Gunn mengambil jalan berbeda. Ia tidak hanya memperbarui, tetapi mendekonstruksi esensi Superman. Dalam film ini, Superman bukan dewa, melainkan manusia dengan kekuatan yang memilih untuk tetap lembut. Ia bukan simbol kekuasaan, tapi kompas nurani. Di tiap pertarungan, kita melihat upayanya untuk menghindari kekerasan yang tak perlu. Ia lebih memilih menyelamatkan, bukan mengalahkan. Bahkan saat nyaris tumbang, bukan karena tak sanggup, melainkan karena menahan diri demi menjaga martabat kemanusiaan.
Dalam dunia yang makin kompleks dan dingin, prinsip-prinsip Superman terlihat naif—ia ingin menyelamatkan semua, dari tupai yang terjebak di saluran air, hingga manusia yang dikekang oleh tirani. Di tengah riuh wacana geopolitik, kolonialisme baru, dan polarisasi sosial yang tajam, Superman tetap percaya pada cinta. Bahkan ketika cinta itu menyakitinya—dalam pertengkaran dengan Lois atau saat dunia mencapnya sebagai “alien jahat”—ia tidak berubah. Sebab baginya, harapan adalah keputusan. Justru karena itu film ini terasa berbeda. Ia menyampaikan bahwa kekuatan sejati bukan hanya terletak pada fisik atau teknologi, melainkan dalam keputusan untuk tetap berbelas kasih ketika dunia meminta manusia membalas dengan dendam. Di era sinema pahlawan super yang semakin kompleks dan penuh dengan kepentingan, Superman (2025) menjadi oase: tempat di mana harapan masih hidup dan keyakinan pada kebaikan belum sepenuhnya pudar.
Dari aspek visual, film ini sangat setia pada akar komiknya. Warna-warna cerah dan ikonografi lawas merayakan era Golden Age dan Silver Age memberi napas nostalgia yang sekaligus segar. Kadang tampil konyol, kadang penuh jenaka—namun tak pernah melupakan kedalaman moral. Gunn juga tidak lupa memasukkan elemen-elemen warna yang selalu tampak pada era Modern Age—meski tidak banyak—yang senantiasa tampak lebih gelap dan kompleks. Clark Kent tampil sebagai pribadi naif, namun tidak bodoh; jenaka, namun tidak sarkastik, serta seringkali tampil galau dan penuh kebimbangan. Inilah upaya Gunn untuk mengembalikan DC ke ranah yang lebih comical, namun tak sepenuhnya menanggalkan selimut dark dan kelam yang selama ini menempel erat di semestanya.
Secara alur, memang tidak ada yang luar biasa segar. Pahlawan menyelamatkan dunia—itu saja. Namun justru kesederhanaan inilah yang mulai langka, dan mungkin juga yang kita rindukan. Film ini tidak penuh intrik atau sub-plot berlebihan. Karakter-karakter pendukung hadir tanpa mengganggu pusat narasi. Gunn tahu ini baru langkah pertama. Ia tidak tergesa-gesa. Ia menghibur, bukan mendikte. Yang patut dicatat adalah pendekatan Gunn dalam membingkai konflik. Ia tidak menghindari dunia mutakhir, melainkan merangkulnya. Selain isu geopolitik, film ini juga menyentuh perang narasi—diperlihatkan lewat Lex Luthor yang menyebar kebencian melalui ratusan monyet buzzer yang memanipulasi opini publik. Di sinilah film ini berbicara langsung kepada zaman kita.
Meski demikian, babak klimaks dalam Superman (2025) terasa seperti langkah yang tertahan di tepi jurang. Ada perasaan “menahan diri” yang begitu kentara—sebuah keputusan kreatif yang tampaknya disengaja untuk menjaga Superman tetap dalam bingkai yang manusiawi. Namun, pengekangan itu justru meredam potensi ledakan emosional dan visual yang seharusnya menjadi puncak dari seluruh perjalanan naratif. Barangkali ini adalah bentuk keberanian Gunn untuk menantang ekspektasi—untuk menunjukkan bahwa kekuatan terbesar Superman justru terletak pada pengendalian diri. Namun, dalam konteks film pembuka yang diharapkan menjadi deklarasi semesta baru, ketenangan itu terasa kurang memberi gema. Andai Gunn memberi ruang bagi Superman untuk sejenak melepaskan batasnya—bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengungkapkan—babak akhir ini bisa menjadi bukan hanya sebuah penutup, tetapi pernyataan yang menggetarkan.
Dari segi teknis, film ini solid. Sinematografinya dinamis namun puitis. Shot-shot-nya cantik, tidak murahan. Desain suara dan scoring-nya menghormati warisan masa lalu, menyatu dengan visi baru. Ada satu adegan yang begitu kuat secara simbolik: ketika seorang anak kecil di Jarhanpur menancapkan bendera Superman, di tengah-tengah kerumunan yang berbondong-bondong menyelamatkan diri dari koloni penjajah. Superman belum datang. Tapi harapan telah tiba. Karena Superman bukan hanya tubuh yang terbang—ia adalah ide yang hidup dalam benak manusia.
Kesimpulannya, Superman (2025) adalah lambang kebangkitan. Film ini bukan menancapkan jejak revolusioner, tapi restoratif. Superman bukan pahlawan baru, tapi cermin dari definisi kepahlawanan lama yang nyaris kita lupakan. Clark Kent versi David Corenswet adalah wajah baru dari harapan lama. Dan James Gunn, dengan segala kepekaannya, mengingatkan kita bahwa kekuatan terbesar Superman bukan terletak pada ototnya—melainkan pada hati nuraninya yang tak tergoyahkan.







