Ditulis oleh Reza Nuriman


Masyarakat di belahan bumi mana pun menyepakati banyak hal identik yang terakreditasi dalam sebuah imaji dan kesepakatan bersama, standar kebenaran adalah hal yang lahir dari sebuah imaji kesucian secara alami akibat kesepakatan bersama dalam sejarah panjang peradaban manusia yang membentuk sistem kehidupan kita saat ini. Kita akan dengan gampang menyepakati bahwa mencuri, menculik dan melacur adalah sebuah perilaku buruk, namun film ini secara tenang mengajak kita untuk kembali mempertanyakan "hitam putih" sebuah moralitas dan kesucian dalam sudut pandang masyarakat marjinal.



MARJINALITAS DAN BERTAHAN HIDUP 


Dalam buku Geografi Sejarah Indonesia karya Yulia Siska, marginalisasi didefinisikan sebagai proses atau kondisi peminggiran individu atau kelompok masyarakat dari arus utama kehidupan sosial, ekonomi dan politik, Sementara Everett Stonequist dalam bukunya The Marginal Man mendefinisikan manusia marjinal sebagai individu yang ditakdirkan hidup dalam dua masyarakat dan dua kebudayaan yang bertentangan. kondisinya dijelaskan sebagai kelompok yang seringkali merasa tidak punya identitas budaya yang jelas juga mengalami konflik psikologis akibat berada dalam batas-batas dua kelompok sosial.


Hirokazu Kore-da mendesain Shoplifters (2018) sebagai panggung bagi sekelompok orang yang secara tidak sengaja berkumpul dalam sebuah rumah, semacam menjadi keluarga yang tidak sengaja terbentuk, para karakter dalam film ini berkumpul dan membentuk sebuah keluarga yang berisi orang orang buangan atau mungkin bisa kita sebut sebagai orang-orang yang "marjinal."  Para karakter dalam film ini mengalami "marginalisasi" atau peminggiran dan pembuangan melalui bermacam-macam cara, ada yang kabur karena memang dibuang oleh orang tua mereka ada juga yang karena sudah tidak tahan dengan perilaku orang tua mereka yang semena-mena dan bahkan mengabaikan.


Dalam keluarga yang digambarkan terbentuk dari sebuah malfungsi hubungan biologis keluarga normal, keluarga marjinal ini tampak menjadi tempat perlindungan dan upaya bertahan hidup bagi orang orang di dalamnya. Dalam kondisi tertentu keluarga ini bertahan hidup dengan cara-cara yang salah menurut standar moral masyarakat tertentu, seperti mencuri di sebuah toko, minimarket dan tempat-tempat perbelanjaan lain. bahkan salah satu karakter  perempuan muda di keluarga ini Aki (Mayu Matsuoka) bekerja di industri prostitusi bernama Peep Room, semacam tempat hiburan dewasa yang memperkerjakan para perempuan untuk beradegan erotis. Mereka ditonton atau dinikmati secara visual melalui cermin dua arah oleh para penyewa jasa atau hiburan tersebut.

    

Di titik inilah film ini mengajak kita untuk kembali menilai ulang kesepakatan moralitas dan standar kesucian kita secara sosial. Bagi mereka cara hidup seperti itu menjadi satu-satunya jalan untuk tetap survive sebagai sebuah 'keluarga' yang terpinggirkan. Hal-hal yang dipercaya sebagai moralitas umum tersebut tidak lagi menjadi pilihan melainkan menjadi sebuah upaya terakhir untuk bertahan.


KEMUNAFIKAN SOSIAL DAN IMAJI KELUARGA HARMONIS



Dalam film ini dua anak yang ada dalam keluarga marjinal tersebut memang diadopsi secara sepihak oleh karakter Osamu (Lily Franky) dan istrinya dengan alasan yang jika dilihat dari sudut pandang keluarga kandung normal si anak yaitu Shota (Kairi Jo) dan Lin/Yuri (Miyu Masaki) Akan tampak seperti sebuah kasus penculikan. tapi disinilah pertanyaan besar yang diajukan film ini muncul, Apakah hal tersebut masihlah sebuah kejahatan ketika si anak tidak merasa terancam dan justru merasa lebih terlindungi dan bahagia ketika ada di dalam rumah tersebut. Terlebih orang tua kandung mereka pun tampak seperti tidak memedulikan mereka. Jika kita beracuan pada kasus karakter Yuri yang pada faktanya orang tua kandung Yuri memang tidak mengurus Yuri dengan baik dan memang hal ini diceritakan di akhir film di mana Yuri diperlihatkan lebih tidak bahagia dan seperti kehilangan kebebasan ketika berada di rumah orang tua kandungnya.


Hal kontradiktif muncul dalam kasus Shota yang dalam pengakuan karakter Nobuyo (Sakura Ando) diadopsi secara sepihak ketika mereka menemukan Shota kecil di tempat Pachinko. tidak dijelaskan lebih jauh tentang apakah Shota memang diculik secara kasar atau dirampas dan sebagainya mengingat Shota tumbuh hidup dengan keluarga mereka tanpa ada hingar bingar tentang orang tua kandung Shota yang mencari Shota atau sebagainya. Hal kontradiktif ini menunjukkan bahwa memang karakter utama dalam film ini yaitu para orang tua dan dewasa dalam keluarga Osamu memang bukanlah orang yang suci yang secara gampang membuat penonton merasa empati ketika menonton. Namun justru mengajak penonton untuk kembali merenungi soal moralitas dan kerentanan masyarakat marjinal di lingkungan sosial masyarakat kita. 



Pertanyaan besarnya memang tidak terjawab langsung oleh film ini dan justru pertanyaan tersebut seperti menjadi bagian dari pesan utama film ini, di mana ketika standar keluarga harmoni dan ideal sudah tersusun rapi dalam sebuah standar sosial yang diamini masyarakat umum, Lantas ketika keharmonian tersebut eksis dan terbentuk secara tidak normal dan bukan dalam hubungan kandung biologis. Masyarakat melihat  hal tersebut sebagai perilaku kriminal semacam penculikan atau sebagainya. Lebih jauh pesan ini dipotret lewat dinamika karakter Yuri dan orang tuanya yang di sequence akhir film dipotret oleh media sebagai orang tua tertindas yang anaknya menjadi korban penculikan. Padahal pada kenyataannya orang tua tersebut adalah orang yang menyebabkan Yuri keluar dari rumah hingga diadopsi oleh keluarga Osamu.